Hati Bergaduh Dalam
Sepi
Tak ada satu suara pun mengisi.
Tetap senyap dalam ruang terkunci.
Tetap senyap dalam ruang terkunci.
Tak ada yang salah.
Hanya saja hati ini sedang bergaduh tanpa sebab.
Mimpi, angan, harapan, saling berdebat dalam sunyi.
Hanya saja hati ini sedang bergaduh tanpa sebab.
Mimpi, angan, harapan, saling berdebat dalam sunyi.
Ruang ini tetap sepi.
Bibir juga tak kuasa membuka walau sesenti.
Namun hati..
Masih berlawan membuat suara bising tak berhenti.
Walau sebenarnya berbisik, tapi sangat memekakkan telinga hingga perih.
Namun hati..
Masih berlawan membuat suara bising tak berhenti.
Walau sebenarnya berbisik, tapi sangat memekakkan telinga hingga perih.
Hei, aku tak butuh manusia sok peduli.
Biar hanya aku dan Dia yang berhak ‘tuk mengetahui.
Biar hanya aku dan Dia yang berhak ‘tuk mengetahui.
Ah, muak. Hati terasa kusam tak bersemi.
Ingin rasanya kutuangkan dalam cawan mini. Lalu kuhanyutkan pada sudut mata yang penuh oleh air panas bak lautan api. Dan kubersihkan sudut hati.
Ingin rasanya kutuangkan dalam cawan mini. Lalu kuhanyutkan pada sudut mata yang penuh oleh air panas bak lautan api. Dan kubersihkan sudut hati.
Serangkai do’a
Serangkai do’a sebagai catatan.
Di setiap sujud berkepanjangan.
Di setiap sujud berkepanjangan.
-Nura Syah-
Surabaya, Maret 2016